MENANTANG YANG MATANG: Pilkada Sebagai Ikhtiar Melahirkan Pemimpin Terbaik Kaltara

Penulis : Ainulyansyah Nurdin S
Editor & Penyunting : Fatmawati S.IP, M.AP.
Desain Sampul : Zulfais Alamsah

Diterbitkan oleh :
CV. Penerbit Eja
Jln. Tala’salapang No 4, Kelurahan Gunungsari, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. Sulawesi Selatan.

Email : ejapublishing21@gmail.com

Cetakan pertama: September 2024
viii + 155 halaman: 14,8 x 21 cm.

ISBN:978-623-89248-6-8

Kaltara, serpihan surga dari Tuhan. Kekayaan alam hingga letak geografis yang strategis, adalah segala potensi yang ada di Kaltara. Terletak di wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia-Sabah, yang secara geo-politik dan geo-ekonomi memiliki peranan penting. Faktor geografis di posisi perbatasan, sangat menentukan kesan kuat bagi negara tetangga terhadap gambaran kondisi darah di Indonesia.

Pada saat masih tergabung dalam Provinsi Kaltimatan Timur, masyarakat Kalimantan Utara merasa tertinggal jauh baik dari segi pembangunan insfrastruktur, pendidikan, dan kemasyarakatan dari daerah lain. Dengan semangat untuk memajukan kualitas hidup masyarakat daerah, mulai timbul wacana pembentukan Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2000. Dengan perjuangan yang panjang Provinsi Kalimantan Utara secara resmi terbentuk sejak ditandatanganinya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara pada tanggal 16 November 2012.

Setelah berdiri lebih dari 1 dekade, dan dua periodesasi pemerintahan telah di lalui. Persoalan infrastruktur, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat seolah belum mendapatkan kepastian “kapan persoalan tersebut akan terselesaikan”. Menghadapi persoalan tersebut tentunya sangat bergantung pada kapasitas dari seorang kepal daerah dalam menyikapi dan mengatasi masalah kedaerahan.

Oleh karnanya memastikan proses rekrutmen kepala daerah haruslah dipastikan berjalan sebagaimana mestinya, Pilkada sebagai proses rekrutmen kepala daerah haruslah di isi dengan narasi ide dan gagasan. Sehingga dapat dipastikan mereka yang akan memimpin jalannya pemerintahan memiliki kapasitas naratif yang kuat.

Persoalannya kemudian adalah, saat ini kita dihadapkan dengan sebuah tantangan dimana pelaksanaan Pemilu dan Pilkada sebagai proses rekrutmen pemimpin berjalan secara tidak ideal. Khususnya di Kaltara, sejak kali pertama dilaksanakannya Pilkada kita melihat adanya konflik entitas yang disebabkan tidak lain karna kekecewaan terhadap hasil Pilkada yang diduga kuat adanya praktik politik uang.

Tak hanya persoalan politik uang, dinamika politik menjalang Pilkada juga tak lepas dari adanya budaya feodalisme dimaan merka hadir dihadapan publik hanya mengandalkan ketokohan. Padahal dalam demokrasi gagasan adalah yang utama, hal ini tentu berdampak pada proses rekrutmen kepala daerah akan menghasilkan pemimpin yang tidak berkualitas.

Menantang Yang Matang, adalah ikhtiar menjadikan proses pelaksanaan Pilkada sebagai arena pertarungan ide bagi para pemimpin. Karna hanya dengan itulah kita dapat mengetahui siapa yang layak memimpin Kalimantan Utara dan menyelesaikan serta mengatasi persoalan-persoalan infrastruktur, pendidikan, hingga kesejahteraan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *